TEKANAN DARAH ATAU TENSI
Pertama kali saya menyadari pentingnya tekanan darah atau tensi adalah ketika wabah Covid 19 sedang mengamuk dan banyak tetangga meninggal sehubungan oleh Covid 19. Saat itu Pemerintah sedang mengusahakan dan melancarkan program vaksinasi terutama di kalangan lanjut-usia 60 tahun ke atas. Saya mendapat undangan untuk mendapatkan injeksi vaksin Covid 19. Prosedur vaksinasi pertama-tama adalah mengukur suhu badan. Harus kurang dari 37 derajat Celsius. Suhu badan saya 36 derajat Celsius jadi saya lanjut ke tahap selanjutnya. Langkah yang kedua adalah mengukur tekanan darah. Standarnya untuk para lanjut usia angka sistolik harus kurang dari 170 mmHg. Di sini saya mendapat masalah. Tekanan darah saya terlalu tinggi, sistolik saya 213 mmHg. Saya tidak boleh menerima vaksinasi Covid 19 saat itu dan diminta menurunkan tekanan darah saya lebih dulu sampai memenuhi syarat maksimum sistolik 170 mmHg.
Saya sangat kecewa saat itu tetapi bersyukur karena saya mendapat petunjuk untuk memerhatikan tekanan darah saya. Sepulang dari Puskesmas saya lalu mencari info tentang tekanan darah dan mencari tahu bagaimana caranya menurunkan tekanan darah yang terlalu tinggi.
Apa itu tekanan darah
Tekanan darah adalah daya tekan yang diperlukan agar darah mengalir melalui arteri (pembuluh darah) dan beredar mencapai semua jaringan tubuh manusia. Maka tekanan adarah itu "ukuran" seberapa kuat jantung kita memompa darah ke seluruh tubuh. Ukuran tekanan darah sangat bergantung pada seberapa banyak darah yang dipompa jantung, serta seberapa besar hambatan pada aliran darah di arteri atau pembuluh darah. Ukuran tekanan darah dengan demikian menunjukkan seberapa kuatnya tekanan darah pada dinding arteri saat jantung memompa darah untuk mengedarkannya ke seluruh tubuh. Semakin bagus kualitas darah, artinya tidak banyak mengandung misalnya lemak dan nikotin, semakin mudah darah dipompa melalui arteri ke seluruh tubuh. Sedangkan untuk saluran peredaran darah makin sempit arteri, dan semakin sulit pembuluh darah diregangkan atau kurang elastis, semakin tinggi pula tekanan darah.
Metode asli untuk menentukan tekanan darah adalah secara manual melalui auskultasi suara Korotkoff yang masih terus menjadi andalan dalam pengukuran tekanan darah.Metode ini menggunakan sphygmomanometer, suatu alat yang terdiri dari manset tiup yang dihubungkan ke pengukur tekanan (umumnya kolom air raksa). Untuk mengukur tekanan darah seseorang, manset yang kempes dipasang di sekitar lengan dan dipompa secukupnya untuk menyumbat aliran arteri. Pada titik ini, tekanan manset melebihi tekanan sistolik, dan auskultasi pada arteri brakialis tidak menunjukkan suara karena hambatan aliran total.
Manset kemudian dikempiskan secara bertahap sambil terus melakukan auskultasi pada arteri brakialis. Ketika tekanan di dalam manset turun ke tingkat tekanan sistolik, aliran darah yang berdenyut mulai terbentuk kembali. Turbulensi yang dihasilkan menghasilkan suara ketukan khas yang disebut suara Korotkoff. Saat manset terus mengempis hingga mencapai tingkat tekanan diastolik, aliran darah berdenyut terjadi dengan lancar, dan suara Korotkoff menghilang. Dengan demikian, tekanan sistolik ditunjukkan dengan timbulnya bunyi Korotkoff, dan hilangnya bunyi tersebut menunjukkan tekanan diastolik.
Bunyi Korotkoff yang terdengar saat mengukur tekanan darah adalah:
Fase pertama suara ketukan yang samar namun jelas yang secara bertahap meningkat intensitasnya
Tahap kedua adalah meredam suara, yang mungkin terdengar seperti tiupan atau desir
Fase ketiga adalah saat kembalinya suara yang lebih tajam yang tidak memiliki intensitas fase satu
Fase empat adalah suara teredam yang terdefinisi dengan baik yang berkembang menjadi lembut dan bertiup
Fase kelima adalah hilangnya suara.
Tekanan darah sistolik adalah tekanan maksimal yang ditimbulkan pada arteri sewaktu darah
disemprotkan ke dalam pembuluh selama periode sistol dengan rerata adalah 120
mmHg. Tekanan darah diastolik adalah tekanan minimal di dalam arteri ketika darah mengalir keluar menuju ke pembuluh yang lebih kecil di hilir selama periode diastol dengan rerata adalah 80 mmHg.
Perangkat otomatis juga dapat digunakan untuk mengukur tekanan darah. Daripada mengauskultasi suara Korotkoff, perangkat ini mengukur osilasi aliran darah saat manset dikempiskan.
Algoritme khusus perangkat kemudian digunakan untuk menghitung tekanan darah secara tidak langsung. Keuntungan pengukuran otomatis adalah pengukuran ini memerlukan sedikit pengetahuan pengguna sehingga cocok digunakan oleh orang awam di lingkungan non-medis.
Norma nilai Tekanan Darah
Tekanan darah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti gaya hidup seseorang, usia, aktivitas yang dijalani, hingga emosi yang tengah dirasakan. Bahkan, tekanan darah dapat ditentukan dari jenis kelamin dan peningkatan seiring bertambahnya usia.
Tekanan darah normal bagi anak-anak agak sulit untuk diketahui, hal ini dikarenakan anak-anak mengalami banyak fase pertumbuhan yang tergolong cepat. Ketika bayi baru lahir, biasanya akan memiliki tekanan darah normal pada angka 90/80 mmHg. Tekanan darah ini tidak terus-menerus berada di angka yang sama.
Tekanan darah normal pada angka 90/80 mmHg akan berubah saat anak menginjak usia 3–12 tahun. Pada usia tersebut, tekanan darah normal akan berubah pada angka 104–113 mmHg hingga 119–127 mmHg.
Normalnya orang dewasa akan memiliki tekanan darah normal di angka 120/80 mmHg. Tekanan darah pada orang dewasa akan berubah-ubah setiap harinya sesuai dengan faktor yang memengaruhinya. Angka 120 menunjukkan tingkat tekanan jantung saat memompa darah, sedangkan angka 80 menunjukkan angka ketika organ jantung beristirahat sejenak saat proses memompa darah.
Berbeda dengan orang dewasa muda, nilai tekanan darah normal pada lansia berada di rentang angka yang sedikit lebih tinggi, yakni 130/80 mmHg hingga 140/90 mmHg. Angka 130 atau 140 merupakan angka sistolik, yaitu tekanan dalam pembuluh darah saat jantung berkontraksi untuk memompa darah bersih ke seluruh tubuh. Sementara itu, angka 80 atau 90 menunjukkan angka diastolik, yaitu tekanan pembuluh darah saat jantung tidak berkontraksi dan menerima aliran darah balik dari seluruh tubuh yang membawa darah kotor. Dari angka di atas dapat diketahui bahwa nilai tekanan darah normal pada lansia lebih tinggi dibandingkan tekanan darah normal pada orang dewasa. Hal ini dikarenakan pembuluh darah cenderung akan semakin mengeras atau kaku seiring pertambahan usia. Mengerasnya pembuluh darah membuat jantung harus bekerja lebih keras, sehingga membuat tekanan darah pada lansia lebih tinggi.
Tekanan Darat Tinggi
Tekanan darah tinggi yang terjadi terus-menerus dapat membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini lama-kelamaan bisa membuat jantung membesar, merusak pembuluh darah, dan membuat ginjal tidak bisa bekerja dengan baik.
Oleh karena itu, hipertensi perlu diperhatikan dan segera ditangani.
Tekanan darah yang persisten tinggi artinya melampaui nilai normalnya. Tekanan darah yang demikian itu merupakan penyakit hipertensi yang diklasifikasikan dalam tiga kelompok:
Hipertensi derajat #1 jika tekanan darah persisten antara sistolik 140-159 mmHg atau diastolik antara 90-99 mmHg,
Hipertensi derajat #2 jika tekanan darah persisten antara sistolik 160-179 mmHg atau diastolik antara 100-109 mmHg
Hipertensi derajat #3 jika tekanan darah persisten antara sistolik lebih dari 180 mmHg atau diastolik lebih dari 110 mmHg.
Lolos untuk Vaksinasi Covid 19
Kembali pada cerita saya di permulaan tulisan ini, saya berusaha menurunkan tekanan darah saya dalam waktu 14 hari. Saya ingin tetap sehat di tengah amukan wabah Covid 19 varian Delta yang menakutkan itu. Ketika diperiksa untuk tujuan vaksinasi, tekanan darah saya pada hari ke 15 usaha menurunkan tensi itu adalah 169 mmHg, turun jauh dari sebelumnya yang 213 mmHg. Maka saya diperbolehkan menerima vaksin pertama anti Covid 19 karena memenuhi persyaratan tekanan darah maksimal lansia 170 mmHg..
Salam sehat!
Bambang Kussriyanto



Komentar
Posting Komentar